Being Human

On Being Parents

Percakapan ini terjadi sepanjang perjalanan saya dan Manajer divisi saya menuju kantor relasi bisnis, di dalam mobil kantor yang disetir oleh seorang Bapak Driver.

Latar belakangnya adalah penatnya hati saya bekerja: dimarahi oleh kawan sekantor, didesak-desak oleh customer, tidak diacuhkan oleh relasi bisnis yang lebih memilih berbicara dengan senior saya, dan juga kelalaian saya mengumpulkan catatan lembur yang mengakibatkan lembur saya tidak diakui. Titik di mana saya menyadari betul bahwa mengais rupiah itu tidak segampang kelihatannya.

Bapak Driver mengeluhkan kurangnya jam lembur sehingga penghasilannya menurun drastis. Lalu tentang bagaimana dia memasak makan siangnya sendiri untuk menghemat biaya. Lalu tentang anaknya yang tidak ingin kuliah dan ingin bekerja, namun sang Bapak Driver kuatir masa depan apa yang akan disambut sang Anak yang hanya berbekal ijazah SMK, itu pun didapat dengan hasil yang kurang baik.

Lalu tentang bagaimana anaknya yang paling kecil suka menolak makan, dan sekalinya dipaksa makan, malah memuntahkan makanan tersebut sambil mencari gara-gara.

“Maklum, namanya juga anak kecil,” ujar Bapak Driver.

Membayangkan diri saya sebagai Bapak Driver dengan mental saya yang sedang kalut parah membuat amarah dalam hati saya tersulut, “Dasar anak tidak tahu terima kasih, apa tidak tahu bagaimana susahnya mencari uang??”

Lalu saya terperangah.

Teringat bahwa dua puluh tahun yang lalu saya adalah anak yang baru makan ketika dipaksa. Bahwa lima belas tahun yang lalu, saya suka menolak makan ketika saya tidak suka menunya. Bahwa sepuluh tahun yang lalu, saya adalah remaja yang suka menghina orang tua yang sudah memberi saya makan, membelikan baju, menyediakan rumah yang nyaman, dan menyekolahkan saya. Bahwa kemarin, saya mengabaikan pesan singkat orang tua saya yang mengingatkan saya untuk makan dan menjaga kesehatan.

Tenggorokan saya tercekat.

Sayup-sayup terdengar komentar Bapak Manajer yang sudah beranak tiga orang, “Anak memang baru sadar jasa orang tua ketika mereka sendiri sudah menjadi orang tua.”

Dan saya takut. Bahwa nantinya ketika saya punya anak, saya akan menyadari lebih banyak kekurangajaran saya terhadap orang tua.

Ada baiknya saya memperbaiki track record saya sebelum terlambat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s