Being Human

mutual ignorance: a SAD fact

Ditulis pada tanggal 29 Desember 2010. Artikelnya sendiri diambil dari majalah Time edisi Desember 2010 yang judulnya Iraq: Missed Steps. The mutual ignorance between Americans and Iraqis at the start of the war would lead to tragedy. Ditulis oleh Bobby Ghosh.

Inside Saddam’s gilt- and chintz-filled office, I found a Marine taking down one of the Iraqi flags that hung next to the dictator’s desk and asking his Kurdish interpreter to translate the green Arabic lettering that ran through the middle. I’ll never know why the Kurd lied, replying, “It says, ‘Saddam Hussein.’” (It actually read, ‘Allaahu akbar’ or ‘God is great.’) Delighted, the Marine took the flag out to the main portico and brandished it at the crowd of Iraqis. Then he fired up a Zippo lighter and, with a triumphant look, announced, “This is what we’ll do to Saddam!”

The Iraqis wre aghast. None of them understood English, and all they could see was a lanky, blond American Marine about to burn their national flag. Some of them shouted at the Marine, but he mistook their anger for enthusiasm. “Yeah, we’re gonna fry his ass!” he whooped, with an exxagerated, nasal Southern drawl.

My interpreter and I were able—only just—to stop the Marine from seting the flag alight. When we explained what the Arabic lettering really said, he turned pale. “Oh, s*** man, I didn’t know,” he said, looking nervously at the crowd, which was seething with resentment. “Can you explain that to them?” He thrust the flag into my hands and ran back indoors.

So I found myself holding Saddam’s flag and facing an angry Iraqi mob. Luckily, my interpreter had a big voice and was able to make himself heard above the din. He explained that the Marine had not intended any insult and had been misinformed by his interpreter. The Iraqis were mollified. Some made wisecracks about Kurds. I handed the flag to an old man in the crowd. He was dressed like a tribal sheik and had a kindly, weathered face. To my surprise, he gave it back to me. “You save the flag,” he said, “So you should have it.”

Kesalahpahaman semacam ini sebenarnya bukan hal yang belum pernah terpikirkan oleh manusia. Buktinya, scene-scene serupa muncul di film macam Crash, Letters from Iwo Jima, atau Babel. Atau drama-drama Korea. Tapi rasanya kaget aja bahwa peristiwa ini kejadian beneran di dunia nyata, di Irak saat perang kemaren. Ironis. Sedih. Sudah berapa lama manusia menempati Bumi? Kayak nggak penah belajar dari pengalaman aja. (Sebenarnya perang itu sendiri sudah merupakan bukti bahwa manusia memang susah belajar…)

Kesalahpahaman ironis ini, kata Ghosh, disebabkan karena diplomat-diplomat Amerika kurang mampu (atau kurang mau?) mempelajari situasi dan kondisi Irak yang sebenarnya. Contoh sederhana, mereka panik saat anggota Partai Baath (partainya Saddam) jumlahnya sangat banyak, tanpa peduli bahwa bergabung dengan partai itu adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan pekerjaan bagi penduduk Irak. Pihak Irak pun terkesan meremehkan tantangan perang Amerika, dengan anggapan bahwa tentara Amerika adalah makhluk-makhluk lemah yang tidak tahan dengan panasnya gurun dan sangat bergantung pada persenjataan yang dikendalikan oleh remote control. Semuanya berasal dari film-film tidak akurat tentang Amerika. Jadilah perang yang menjadi tragedi bagi kedua bangsa.

(Sebenarnya saya tidak tahu banyak soal perang Irak-Amerika. Maaf kalo ada yang salah. Ini Pak Ghosh yang nulis *nyalahin orang lain*. Baca artikelnya sendiri kalo mau lebih yakin.)

Tuhan sendiri udah bilang kalo Dia Mau, bisa saja dia bikin manusia ini satu umat saja (satu jenis masyarakat). Tapi Dia menciptakan kita berbeda-beda agar kita saling mengenal. Agar kita menyadari bahwa di balik semua perbedaan dari sekujur badan kita, manusia hanyalah makhluk sederhana yang punya kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai yang sama.

Soal ignorance ini, sebenarnya ada kesan khusus yang muncul dalam batin saya sepanjang satu semester ini. Sebelum ini, saya selalu beranggapan bahwa ignorance (boleh gag sih diartiin apatisme?) itu lebih baik daripada nyolot dan cari gara-gara. Mendingan diam daripada nyari masalah. Dengan tidak adanya gesekan tentunya tidak akan ada masalah.

Saya termasuk di dalamnya. Saya ingin merasakan damai dalam zona nyaman saya. Saya ingin selalu bersama teman-teman yang saya tahu tidak akan menolak saya. Saya cenderung lambat dan takut-takut memulai pertemanan baru, karena saya takut mengecewakan dan dikecewakan.

Saya tahu pola pikir saya dengan mereka berbeda. Saya tahu gaya hidup saya dan mereka berbeda. Ada teman yang bilang bahwa budaya saya dan mereka berbeda.

Tahu dari mana? (Yang saya sebut ‘mereka’ itu sebenarnya siapa?)

Segala hal yang saya anggap ‘pengetahuan’ ini rasanya seperti hal yang semu belaka (ceilah bahasanya). Bukan pengetahuan yang menjadi penuntun saya saat saya bingung, tapi sebuah prasangka. Stereotipe. Stereotipe-stereotipe itulah yang membebani pikiran saya dan memberatkan langkah saya untuk mengenal banyak orang lebih jauh. Udah capek duluan, capek mikirin hal-hal yang saya takutkan akan terjadi saat saya mulai mendekatkan pribadi saya yang penuh gerigi, dengan pribadi-pribadi lain dengan geriginya masing-masing. Setelah dipikir-pikir sekarang sih, mendingan capek karena saling hantam dan bergesekan saat proses saling mengenal daripada capek sendiri-sendiri dalam ketakutan masing-masing. Kan sama-sama capek.

Emang susah sih buat saya yang selalu ingin punya rencana ke depan, dan nggak suka sama ketidakpastian. Walaupun buat saya sendiri saya terlihat seperti orang yang suka mencoba hal baru dan suka tantangan (geer!), saya sebenarnya freak terhadap kepastian. Mungkin orang lain lebih tahu. (Ini adalah bukti saya masih belum bisa mengenal diri saya dengan baik.) Tapi ternyata tindakan yang kelewat preventif ini tidak membuat hidup saya jadi lebih terencana, masa depan saya juga nggak keliatan lebih jelas. Yaiyalah, siapa yang lebih mampu mengatur takdir kehidupan saya: Tuhan atau saya? (Ini mah retoris banget.)
Kenapa tidak jejakkan saja satu langkah ke depan dengan kepercayaan penuh kepada Sang Penulis Takdir?

Sang Pujangga Roman terhebat, yang Mencintai saya lebih daripada siapapun. Selama masih dalam aturan yang Dia tetapkan, sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti.

Hahahahaha, tapi praktiknya pasti susah setengah idup. (Apalagi tidak ada parameter yang jelas –> obsesi-kompulsif terhadap kepastian muncul lagi.) Tapi gag ada salahnya mencoba. Saya sudah capek dengan segala pikiran negatif bahwa saya tidak berharga dan saya tidak bisa (tapi jadi kelewat lemah sama pujian). Saya optimis saya bisa, kalaupun tidak, saya bisa mengusahakan sesuatu yang akan Dia Hargai.

I am not Englishman in New York. It’s not as hard as American live in China. I’m not Indonesian in Japan (anymore). I’m just a simple Malangese studying in Bandung! It should be easy.

Let’s bump and crash. Let’s make some heat, so all of us can feel warm.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s