Being Human

Teman adalah Hadiah

originally written in December 17, 2009 at 12:03 am. In fact, I did not write this. I just quoted it from an email attachment sent from a faraway teacher whom I knew briefly. But still, the message lingers. I just don’t want to forget.

Teman adalah hadiah dari Yang Di Atas buat kita.

Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan ada yang bungkusnya jelek. Yang bungkusnya bagus punya wajah rupawan, ataupun kepribadian yang menarik. Yang bungkusnya jelek punya wajah yang biasa saja, atau kepribadian yang biasa saja, atau malah menjengkelkan.

Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau saat berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam, saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.

Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah, dan lain-lain.

Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencoba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu bahwa itu semua BUKAN karena mereka pada dasarnya buruk, tetapi karena ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta, karena justru ia yang membutuhkan cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran, dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka terdalam yang memasung jiwanya.

Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutannya terhadap air yang mesti disembuhkan, bukan malah mencaci mereka karena mereka tidak mau berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan bilang bahwa ‘lutut’ mereka luka atau mereka ‘takut air’, mereka akan bilang mereka tidak suka berlari atau mereka akan bilang berenang itu membosankan. Itulah cara mereka mempertahankan diri.

Mereka akan bilang:
“Menari itu tidak menarik.”
“Tidak ada yang cocok denganku.”
“Teman-temanku sudah lulus semua.”
“Aku ini buruk siapa yang bakal tahan denganku.”
“Kisah hidupku membosankan.”

Mereka tidak akan bilang:
“Aku tidak bisa menari.”
“Aku membutuhkan kamu denganku.”
“Aku kesepian.”
“Aku butuh diterima.”
“Aku ingin didengarkan.”

Mereka semua hadiah buat kita, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan. Hanya ketika kita bertemu jiwa dengan jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s