Biomassa dan Bioenergi

Slide #1 kuliah Teknologi Kemurgi: Kuliah Pengantar oleh Dr. Tatang Hernas Soerawidjaja

Biomassa adalah bahan-bahan organik dari tumbuhan dan hewan yang berumur relatif muda (belum menjadi fosil) yang jika dikelola secara memadai, merupakan sumber daya terbarukan/berkelanjutan. Biomassa biasanya berasal dari industri budidaya, seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan. Sedangkan bioenergi merupakan energi yang dibangkitkan dari biomassa, dan sedang naik popularitasnya di dunia. Biomassa dapat diperoleh dari berbagai sumber. Bisa dari limbah ataupun produk samping proses pengolahan pangan, dari surplus tanaman pangan, maupun dari  tanaman industri yang memang sengaja ditanam sebagai komoditas non-pangan.

Dua hal yang menjadi alasan utama bioenergi (kembali) mendapatkan momentumnya adalah makin langkanya minyak bumi, yang ada pun semakin sulit untuk didapatkan, dan maraknya isu pemanasan global. Mulai banyak orang yang merasakan ketidaknyamanan ketika menggunakan bahan bakar fosil karena kedua alasan itu dan mulai mencari alternatif lain untuk menggantikannya.

Pencarian alternatif ini sangat intens dilakukan. Untuk sebuah negara, sangat penting menjaga keterjaminan pasokan energi, karena energi secara langsung menggerakkan roda perekonomian yang sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan rakyatnya. Beberapa negara memiliki kriteria yang cukup ketat dalam keterjaminan pasokan energi, salah satu contoh yang saya ingat adalah Jepang yang memiliki peraturan bahwa negara tersebut harus memiliki persediaan energi siap-pakai yang cukup untuk konsumsi selama 184 hari (rekomendasi IEA, International Energy Agency, adalah 90 hari; kebijakan Indonesia adalah 23 hari konsumsi BBM). Bayangkan saja, energi untuk setengah tahun mendatang sudah harus siap hari ini. Beberapa mungkin menganggapnya berlebihan, namun pada kenyataannya sama sekali tidak karena memang sedemikian penting peran energi sebagai roda penggerak negeri.

Selain untuk keterjaminan pasokan energi, pencarian alternatif sumber energi baru sangat layak dilakukan mengingat mahalnya harga bahan bakar fosil akhir-akhir ini (akibat kelangkaannya). Untuk negara-negara yang harus mengimpor, tentu saja akan sangat melegakan jika ditemukan sumber energi lain yang lebih murah. Neraca pembayaran negara akan menjadi lebih sehat. Uang yang awalnya digunakan untuk membeli bahan bakar fosil dapat digunakan untuk keperluan lain, misalnya untuk pendidikan maupun kesehatan.

Energi alternatif ini bisa berupa apa saja. Angin, air, nuklir, maupun biomassa. Rata-rata merupakan enegi baru/terbarukan, yang mampu menggulingkan bahan bakar fosil dalam permasalahan polusi udara dan efek rumah kaca. Karena efek buruknya yang rendah itulah energi baru/terbarukan lebih mampu mendukung pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan, sebagaimana didefinisikan dalam Brandtland Comission pada 1987, adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini tanpa mengorbankan peluangnya untuk memenuhi kebutuhan generasi mendatang. Sustainable development is the development that meets the needs of present without compromising the ability of future generations to meet their own needs. Intinya adalah meninggalkan Bumi yang setidaknya sama baiknya, atau malah lebih baik, kepada generasi mendatang. Hal ini bukan merupakan hal mudah, karena hingga saat ini belum dapat diwujudkan. Namun usaha yang terus-menerus harus tetap dilakukan.

Untuk Indonesia, potensi biomassa sebagai sumber energi alternatif dirasa jauh lebih besar dibandingkan dengan negara lain. Indonesia dengan megabiodiversitasnya, nomor 1 di dunia untuk keanekaragaman hayati darat dan laut, memiliki banyak tumbuhan potensial yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber bioenergi. Lagipula, pemanfaatan sekian banyak keanekaragaman hayati ini menjadi sumber energi tentunya akan meningkatkan nilai jualnya, sehingga industri budidaya di Indonesia bisa mendapatkan nafas baru yang lebih segar. Selain itu, pedesaan Indonesia di mana biomassa ini paling banyak ditemukan juga potensial untuk dikembangkan menjadi sentra-sentra perekonomian baru dengan adanya pemanfaatan biomassa menjadi sumber energi, yang banyak dicari. Harapan ke depannya adalah tingkat urbanisasi dapat ditekan dan standar kesejahteraan masyarakat pedesaan pun dapat meningkat.

Peluang yang begitu besar tentu saja tidak datang dengan cuma-cuma. Ada beberapa tantangan yang harus diatasi dalam usaha-usaha pemanfaatan sumber daya hayati. Tantangan ini umumnya muncul karena kita terlalu dekat (over-familiar) dengan bahan bakar fosil, sehingga seluruh sistem pemanfaatan energi yang ada dalam kehidupan kita dibuat agar mendukung bahan bakar fosil. Sumber energi yang karakteristiknya tidak sama dengan bahan bakar fosil tentunya menjadi sulit diterima.

Salah satu tantangan utama dari biomassa adalah sifatnya yang umumnya padat dengan kerapatan massa ruah (bulk density) yang rendah, kadar air yang tinggi, nilai kalor yang rendah, dan kadar oksigen yang tinggi. Hal ini membuat biomassa menjadi sulit ditangani dan efisiensi yang kecil dalam proses konversinya menjadi energi. Namun perkembangan teknologi yang sangat pesat membuat kita tidak berhenti berharap untuk terus mengembangkan sumber energi alternatif ini. Harapannya, semoga dapat menjadi sumber energi alternatif yang penuh berkah. Aamiin! :D

About these ads

2 responses on “Biomassa dan Bioenergi

  1. salah satu tantangannya lagi adalah masalah alokasi dana dari pemerintah untuk bagian riset yang kecil. Padahal klo alokasi dananya cukup dan kesejahteraan penelitinya diperhatikan, pencarian biomassa yang sesuai utk jadi bioenergi bisa smakin maju, sehingga pada kalanya setelah data penelitiannya terkumpul, bisa lebih mudah untuk di Scale Up

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s